Jumat, 04 Januari 2013

Liburaaaaaaaaaaaaan^^..... dan Noraknya saya :D…


2 bulan sudah kami ber 5 di Lindu, sebuah kecamatan dengan akses terbatas tapi mempunyai pemandangan serta kekayaan alam yang berlimpah. Menurut penuturan dari bapak camat Lindu tanam apa saja di tanah Lindu akan tumbuh dengan subur. Danau Lindu sendiri memberikan ikan yang berlimpahruah. Ikan khas danau Lindu adalah ikan Mujair. Pokonya sampai bosen makan mujair deh. Bingung mau diapakan lagi coba, mulai dari di goreng kering dengan sambel terasi, di pindang, di gulai sampai di pepes juga sudah kita buat. Beli lima ribu rupiah kamu akan mendapatkan 20 sampai 25 ikan mujair dengan ukuran sedang. Coba bayangin, mau diapain ikan sebanyak itu…??? Selain mabok membersikahnya juga mabok menghabiskannya :D… Kalo di Lindu, mabok Mujair judulnya dah :D…

Hari ini tanggal 30 Desember 2012, menyambut tahun baru kami berlima “Turun Gunung” (Baca=Kota Palu). Turun gunung ini selain untuk berkoordinasi dengan Tim Pusat Pencerah Nusantara kami juga mengagendakan L I B U R A N Hehehe…. Bagaimana tidak, selama 2 bulan ini kami “Turun Gunung” hanya untuk merujuk pasien. Jadi tidak benar-benaar menikmati begitu^^….
Kali ini kami bersepakat untuk liburan yang dekat-dekat kota Palu saja. Pilihan kami jatuh ke pantai Tanjung Karang yang berada di Kabupaten Donggala. Saya si sebagai orang yang sangat.. sangat.. sangat jarang ke pantai apa lagi untuk bermain, setuju-setuju saja. Awalnya biasa saja, malah saya sempat bawa buku untuk sebagai bacaan diperjalanan, mengingat perjalanan menuju Pantai Tanjung Karang di Donggala itu memakan waktu 1 jam kurang lebih. Awal perjalanan saya hanya membaca buku itu, tapiiiiiii…. Saya capek, dan mendongakkan kepala melihat dari jendela mobil.


Oh My God…. Cantiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiik…. ( Teriak saya norak :D…)

Yah, maklum saja, saya termasuk anak baik-baik waktu sekolah dulu. Sangat sulit mendapatkan persetujuan dari orang tua kalau ada acara liburan keluar kota. Banyak alasannya, takut kenapa-napa, takut karena saya anak perempuan, sampai alasan gak ada duit :D…  

Akhirnya sampailah di pantai Tanjung Karang,… Karena sampainya sekitar jam 12-an siang maka kami segera mencari sewaan gazebo untuk tempat berteduh. Setelah nemu kami langsung leyeh-leyeh gak jelas dan tentu saja sambil leyeh-;eyeh itu apa lagi kalau bukan makan siang bersama. Masing-masing mengeluarkan bekalnya, dan… itadakimaaaaaaaaaaaaaaas…. Selamat makaaaaaaaaaan^^….
Setelah makan siang masih juga leyeh-leyeh aja. Malas main-main aer. Orang panasnya bisa mencapai 34 derajat… beeeuhh…. Panas beut, gak sudi bin gak ridho deh bikin belang kulit. Capek-capek dirawat selama di Lindu gitu :D… 

Hokeh……

Kami sempat meneriaki Usman karena dia “nekat” nyebur ke laut bersama banyak orang lainnya untuk main “Usman, jangan main air dulu, panas banget ini… Kamu mau bikin kulit kamu panuan ya…???” begitulah kami teriak-teriak yang disambut dengan tatapan tajam orang-orang yang lagi main air di pantai :D…
Akhirnya nyebur juga
Beberapa menit kemudian, mulai satu demi satu dari kami turun ke pantai, awalnya karena tertarik dengan umang-umang binatang yang mirip keong tapi agak kecil dan biasa di jual abang-abang di pasar cangkangnya di cat warna-warni bahkan ada yang dipasangin kereta-keretaan untuk menarik anak kecil agar mau beli itu (Panjang ya….)

Melihat perahun yang unyu-unyu, katanya bisa lihat karang dari perahu itu kalau dibawa ketengah laut. Okeh, kami sepakat menyewa dan naik itu perahu menuju spot yang banyak karangnya. Sekali lagi noraknya saya keluar, liat air laut yang bening nan cantik tembus pandang bak kaca itu langsung menjulurkan kaki untuk merasakan sensasi kaki kena air laut serta ingin melihat karang-karang cantik dengan ikan warna warni disekitarnya, ih.. ada Nemo lho diantara karang-karang itu (Norak lagi:D…)
Sensasi kaki yang pertama kena air laut :D... Itu karangnya keliataaaaaaaaaan :D....

Okeh, sudah naik perahu dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri cantiknya laut beserta isinya. Kami lanjut main air dengan pelampung. Terdapat potongan-potongan karang kecil di pantai kami mencari serupa bentuk-bentuk hurup untuk menyusun kata “L I N D U”… dan nemu… Setelah disusun menbentuk kata 
L I N D U kamipun foto-foto (Norakkan.. Hadeeeuuh…)
Ini dia kenorakan kami berikutnya
L I N D U

Tak terasa sudah jam 3 sore, satu lagi yang belum kami coba yaitu Banana Boat. Okeh, pesan dulu sambil menunggu antrian dengan pengguna lainnya kami main2 pasir sambil menuliskan kata-kata 

“PN LINDU @Pantai Tanjung Karang, Donggala”

Taraaaaaaaaaaaaaa...

sampai saya juga menuliskan nama saya "U T R I" di pasir yang kemudian di foto. 
Usman mengomentari saya:

 “Standard ya ukhti-ukhti kalo kepantai bikin tulisan namanya sendiri terus di aplot di pesbuk jadiin foto profil…” 

ahahahahaha :D… Awas ya Usman…

Yuk mari ke aktivitas selanjutnya naik Banana Boat. Bagi saya si yang pertama kali naik Banana Boat (Ah apa si yang pernah saya lakukan waktu muda dulu?? Bingung saya, semua serba pertama:D…) sensasinya biasa saja. Tapi pas yang terakhir itu lho waktu kita di jatuhin sama itu yang bawa speedboat-nya agak-agak takut sedikit karena gak bisa berenang dan berada di pinggiran pantai yang cukup dalam walaupun sudah pakai pelampung tetep aja agak gimana gitu, sedikit takut. Tapi seru juga akhirnya saya bisa berenang ke pantai dengan bantuan pelampung (Horeeeeeeeeeeyy…. Bisa renang juga :D…)

Setelah total berbasah ria di pantai, langsung menuju tempat bilas dang ganti baju, dilanjut solat ashar di pinggir pantai. Aiiih rasanya ajaib^^…. Menyenangkan….

Alhamdulillah… liburan pertama kami berlima seruuuuuuuuuuuu...
Pulang kelindu nanti dengan perasaan gembira kembali untuk melanjutkan aktivitas “mencerahkan” masyarakat Lindu… B E R S E M A N G A T ^^




31 Desember 2012
Utri kularia
Pencerah Nusantara Lindu Batch 1

Kamis, 03 Januari 2013

"Revitalisasi Posyandu Kecamatan Lindu Kabupaten Sigi" (Sedikit dari kami)



Gangguan gizi pada anak dibawah usia dua tahun pada umumnya secara kuantitas tidak pernah berkurang. Demikian juga yang terjadi di Indonesia dimana cenderung naik yang kalau tidak segera ditangani dapat mempengaruhi pertumbuhan generasi penerus bangsa selanjutnya. Untuk mengatasinya sebetulnya Indonesia sudah mempunyai formulasi tepat yang namanya Posyandu. Dimana Posyandu dapat melaksanakan fungsi dasar sebagai unit pemantau tumbuh kembang anak, serta menyampaikan pesan kepada ibu sebagai agen pembaharuan dan anggota keluarga yang memiliki bayi dan balita dengan mengupayakan bagaimana memelihara anak secara baik yang mendukung tumbuh kembang anak sesuai dengan potensinya.
Pemeliharaan dan perawatan kesejahtreraan ibu dan anak-anak sejak usia dini merupakan suatu strategi dalam upaya pemenuhan pelayanan kesehatan dasar yang meliputi peningkatan derajat kesehatan gizi yang baik, lingkungan sehat dan aman, pengembangan psikososial, kemampuan berbahasa dan pengembangan kemampuan kognitif serta perlindungan anak tehadap pengabaian.
Kecamatan Lindu merupakan kecamatan dengan penduduk kurang lebih 4600 jiwa dengan mata pencaharian sebagian besar sebagai petani coklat, kopi dan bersawah. Kecamatan Lindu merupakan daerah wisata dimana disalah satu desa yaitu desa Tomado terdapat lokasi tempat diadakan Festival Danau Lindu setiap tahunnya. Terdapat juga beberapa situs bersejarah, salah satunya terdapat makam Maradindo yang diyakini dan dipercaya oleh masyarakat Lindu sebagai tokoh adat tertua. Maradindo sang tokoh legendaris ini adalah pemersatu masyarakat Lindu yang dahulunya sering bertikai antar suku.
 Sebaran penduduk di kecamatan Lindu sendiri beragam, ada empat desa yang berada pada suatu persekutuan integral masyarakat Lindu, yaitu desa Langko, desa Tomado dan desa Anca serta desa Puroo. Sedangkan sebaran dusun dari masing-masing desa tersebut berada di seberang danau Lindu, yaitu Wongkodono, Sangali, Lembosa, Kanawu dan Kangkuro dusun-dusun tersebut biasa di sebut dusun sulit, karena untuk menuju kesana harus menggunakan ketinting atau perahu dengan melintasi danau Lindu serta medan jalan antara dusun satu kedusun yang lain berlubang, penuh genangan air dan lumpur.
Berdasarkan sebaran penduduk diatas tentu saja menjadi persoalan tersendiri bagi tenaga kesehatan, dimana setiap desa memiliki karakteristik dan kesulitan sendiri-sendiri. Khususnya untuk pelayanan Posyandu dikecamatan Lindu yang sebenarnya sudah tersebar pada sebelas titik dimasing-masing desa dan dusun. Yaitu: Posyandu Puroo, Langko, Tomado, Anca, Kalora, Sangali, Kangkuro, Wongkodono, Kanawu atas, Kanawu bawah dan Lembosa. Berikut analisis SWOT Program Posyandu untuk Kecamatan Lindu:


Analisis SWOT Program Posyandu kecamatan Lindu

Strength (Kekuatan)
Weakness (Kelemahan)
Opportunity (Peluang)
Treat
(Ancaman)
SDM Puskesmas bersedia membantu
Belum ada laporan dan sistem pendataan yang lengkap untuk posyandu
Dukungan Puskesmas
Keadaan Geografis, yaitu jarak antar dusun satu dan lainnya terpisah oleh danau
Tersedia 11 posyandu
Vaksin imunisasi cepat rusak, karena tempat penyimpanan vaksin (Kulkas minyak tanah) sering mengalami kerusakan  
Adanya dukungan pemerintah desa dan kecamatan setempat
Jadwal keberangkatan transportasi danau tidak teratur.

BOK
Peralatan posyandu tidak lengkap.
Keinginan masyarakat untuk diadakan posyandu secara rutin cukup tinggi.


Kegiatan Posyandu belum maksimal. Biasanya hanya dilakukan penimbangan saja tiap kali Posyandu dilaksanakan.



Setelah dilakukan wawancara dengan petugas puskesmas dan masyarakat di beberapa desa tersebut diatas, pelaksanaan posyandu di kecamatan Lindu mengalami kemunduran baik itu dari sisi kader yang banyak tidak aktif lagi dengan berbagai alasan diantaranya sudah lanjut usia ataupun pindah tempat tinggal apa lagi setelah tanggal 18 Agustus 2012 terjadi gempa di kecamatan Lindu dengan kekuatan 6,3 SC dan cukup banyak memakan korban terutama di dua desa yaitu desa Tomado dan desa Anca baik itu korban harta benda dan korban jiwa, dari kejadian gempa tersebut sampai dengan saat ini beberapa Posyandu belum dilaksanakan kembali. Kecamatan Lindu sendiri mempunya 4 desa dengan 11 Posyandu. Akan tetapi hanya 4 Posyandu yang aktif. Sedangkan untuk kelengkapan peralatan, semua posyandu di kecamatan Lindu belum memiliki peralatan yang lengkap sebagaimana seharusnya Posyandu miliki untuk menunjang pelayanan. Semua posyandu di kecamatan Lindu hanya melakukan penimbangan serta pemeriksaan ibu hamil saja. Disamping masalah tersebut sebagian besar posyandu belum memiliki jumlah kader yang cukup bila dibandingkan dengan jumlah sasaran. Masalah lain lagi yaitu sebagian besar kader masih belum mampu mandiri, karena masih bergantung pada petugas puskesmas sebagai Pembina serta penghargaan terhadap kader masih rendah. Sedangkan untuk Posyandu yang berada di desa sulit sudah lama sekali tidak dilakukan Posyandu. Sebagai contoh dusun Lembosa dan dusun Sangali Posyandunya sudah cukup lama digabung dengan Posyandu dusun Kanawu. Sedangkan setelah kami melakukan kunjungan di desa-desa tersebut medan dari dusun Sangali dan dusun Lembosa menuju dusun Kanawu sangatlah sulit. Bahkan tukang ojek dengan jam terbang tinggi sekalipun “menyerah” tidak mau mengantar kami walaupun kami sanggupi membayar mereka dua ratus ribu sekali jalan. Terbayanglah betapa sulitnya ibu-ibu itu mengantarkan bayi mereka menuju Posyandu atau untuk memeriksakan kehamilan mereka.
Berdasarkan data diatas maka revitalisasi Posyandu sudah mutlak dilakukan di kecamatan Lindu. Revitalisasi Posyandu merupakan upaya perbaikan dalam membangun Sumber Daya Manusia sejak dini. Jika Posyandu dilaksanakan dengan baik, maka upaya untuk pemenuhan kebutuhan dasar pengembangan anak akan baik pula.
Revitalisasi Posyandu juga perlu dilaksanakan mengingat kecamatan Lindu merupakan Daerah Bermasalah Kesehatan Khusus dengan adanya cacing endemis danau Lindu yaitu cacing Schistosomiasis, orang Lindu biasanya menyebut penyakit yang disebabkan oleh cacing ini “Penyakit keong” cacing schistosmiasis ini menggunakan keong sebagai medianya. Maka pada pertemuan sosialisasi PDBK yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan dan Puskesmas Kecamatan Lindu yang dihadiri oleh aparat pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat dan PKK pada tanggal 02 November 2012 bertempat di Balai Desa Anca dibuatlah beberapa kesepakatan, diantaranya ;
a.   Mendukung program kesehatan Kecamatan Lindu dalam rangka Penanggulangan Daerah Bermasalah Kesehatan
b.      Menggerakkan peran serta masyarakat melalui Posyandu
c.       Mengaktifkan dasa wisma untuk membantu intervensi bidang kesehatan
d.    Mendorong dan mengawasi kegiatan kesehatan ibu dan anak khususnya mendorong bidan desa untuk tinggal didesa
e.       Mengaktifkan kembali desa siaga melalui forum kesehatan desa
f.        Menindaklanjuti hasil sosialisasi daerah bermasalah kesehatan ditingkat desa.
g.   Peserta yang menandatangani komitmen ini merupakan perwakilan dari peserta sosialisasi yang mewakili seluruh komitmen peserta sosialisasi.

Berdasarkan buku panduan Revitalisasi Posyandu yang dibuat oleh 3 lembaga yang mempunyai kepentingan bersama terhadap Posyandu yaitu Kementrian Kesehatan, Kementrian Dalam Negeri serta ketua PKK Nasional maka dirumuskanlah 7 tahapan dalam pelaksanaan revitalisasi Posyandu yaitu sebagai berikut:


Tahapan Pelaksanaan Revitalisasi Posyandu
1.      Pelatihan Kader
Pelatihan kader bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan sekaligus dedikasi kader agar timbul kepercayaan diri untuk dapat melaksanakan tugas sebagai kader dalam melayani masyarakat, baik di Posyandu maupun saat melakukan kunjungan rumah.
Pelatihan kader akan dititik beratkan pada keterampilan teknis menyusun rencana kerja kegiatan Posyandu, cara menghitung kelompok sasaran yang menjadi tanggung jawab Posyandu, cara menimbang, menilai pertumbuhan anak, cara menyiapkan kegiatan pelayanan sesuai kebutuhan anak dan ibu, menyiapkan peragaan cara pemberian makanan pendamping ASI dan PMT untuk anak yang berat badannya tidak naik, memantau perkembangan ibu hamil dan ibu menyusui.
Kader yang telah dilatih akan segera dilibatkan pada kegiatan Posyandu. Sedangkan pembinaan pasca Pelatihan Kader akan dilakukan refreshing kader dalam bentuk cerdas cermat kader Posyandu yang selanjutnya akan dilaksanakan lomba Posyandu Teladan.

2.      Meningkatkan Jangkauan pelayanan melalui kegiatan pelayanan pada hari buka Posyandu dan kunjungan rumah
1.      Pelayanan pada hari buka
Pelayanan Posyandu pada hari buka dilakukan dengan menggunakan system 5 meja.
-          Jenis pelayanan minimal kepada anak Balita dan Baduta, yaitu: Penimbangan, pemberian Makanan Pendamping ASI dan Vit. A, Pemberian PMT, Imunisasi, pemantauan lumpuh layu dan pemantauan kejadian ISPA, diare serta melakukan rujukan bila diperlukan.
-          Paket pelayanan pengembangan atau pilihan adalah paket yang bisa ditambahkan di Posyandu yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat seperti program dana sehat (tabulin), program penyuluhan penanggulangan penyakit endemis schistosomiasis, DBD dan malaria sebagai penyakit endemis di kecamatan Lindu.
-          Pelayanan ibu hamil dan ibu menyusui. Untuk ibu hamil dan menyusui pelayanan diberikan oleh tenaga kesehatan di meja ke 5 saat posyandu buka.
2.      Pelayanan dengan kunjungan rumah
Kunjungan rumah dilakukan oleh kader dan bila perlu didampingi oleh pendamping dari tenaga kesehatan atau tokoh masyarakat sebelum maupun sesudah jam buka posyandu. Kunjungan rumah meliputi:
a.   Menyampaikan undangan kekelompok sasaran agar berkunjung ke Posyandu saat hari buka
b.  Mengadakan pemutakhiran data bayi, balita, ibu hamil, ibu menyusui dan pemetaan keluarga miskin
c.     Intensifikasi penyuluhan gizi dan kesehatan dasar
d.     Melakukan tindak lanjut temuan pada hari buka Posyandu dengan pemberian PMT
e.     Pemantauan status imunisasi dan lumpuh layu
f.   Dengan dukungan pemeriksaan kehamilan dan pertolongan persalinan oleh bidan atau tenaga kesehatan dari puskesmas dan dapat membentuk kegiatan Kelompok Peminatan Kesehatan Ibu dan Anak.

3.      Meningkatkan peran serta masyarakat dan membangun kemitraan
Sebagai unit pelayanan yang berbasis masyarakat, posyandu perlu mendapat dukungan dari masyarakat melalui peran serta agar kegiatan Posyandu dapat berkelanjutan dan jangkauannya meluas sesuai kebutuhan kelompok sasaran yang dilayani. kegiatan yang akan dilakukan:
1.  Pemberian bimbingan dalam rangka pengelolaan Posyandu dan kegiatan langsung berupa pelayanan konseling dan rujukan yang dapat meningkatkan mutu Posyandu secara menyeluruh ketenagaan, sarana dan pembiayaan bagi kelangsungan Posyandu yang bersumber dari masyarakat.
2.   Pembentukan suatu lembaga unit pengelola Posyandu didesa yang anggotanya dipilih dari masyarakat, dengan tugas untuk mengelola secara professional penyelenggaraan Posyandu, termasuk memperhatikan masalah ketenagaan, sarana dan pembiayaan bagi kelangsungan Posyandu yang bersumber dari masyarakat.
3.  Pemberian bantuan pembiayaan untuk Posyandu yang bersumber dari dana masyarakat, seperti zakat dan sumbangan keagamaan dan pemberian bantuan sarana dasar untuk pelaksanaan fungsi pokok Posyandu.
4.  Membentuk dan memperkuat jejaring antar posyandu dalam satu desa. Kemitraan inti kegiatan berupa pelayanan langsung, pelatihan kader bersama, orientasi temu kerja, temu konsultasi dan evaluasi serta penggerakan peran serta masyarakat agar memperhatikan Posyandu sebagai unit pelayanan yang membantu keluarga dalam pengembangan kualitas generasi masa depan.

4.      Optimalisasi Kegiatan Posyandu
Mengoptimalkan kegiatan posyandu dengan cara memenuhi sarana dan prasarana posyandu. Sehingga kegiatan Posyandu dapat berlangsung secara optimal, baik saat hari buka maupun saat kunjungan rumah. Sarana dasar seperti timbangan bayi, timbangan dewasa, Kartu Manuju Sehat, pita LiLA, alat peraga memasak, bahan KIE, obat-obatan berupa Vit. A, tablet dan sirup Fe, kapsul iodium, obat cacing, oralit, ATK dan format SIP untuk menunjang kegiatan pelayanan minimal dan paket Tambahan sesuai jumlah kelompok sasaran yang ditetapkan, merupakan syarat dasar untuk berfungsinya Posyandu secara baik.

5.      Pelayanan Menggunakan Sistem kafetarian (Pilihan Jenis Layanan)
Sistem kafetaria atau pilihan jenis layanan ini dilaksanakan sesuai kebutuhan kelompok sasaran, meski secara umum setiap Posyandu mampu memberikan pelayanan mulai dari paket minimum sampai paket tambahan. Layanan ini tentu saja tidak boleh menghilangkan tugas pokok Posyandu untuk menjadi unit pemantau tumbuh kembang anak, khususnya untuk memenuhi kelompok sasaran yang paling rawan dalam proses tumbuh kembangnya yaitu Baduta. Pada kegiatan ini posyandu juga memberikan layanan dalam pendidikan para ibu bagaimana cara memelihara bayi dan balita secara tepat melalui peningkatan kemampuan untuk mengamati adanya tanda-tanda penyimpangan dalam tumbuh kembang anak.

6.      Memberikan Perhatian Khusus pada Kelompok sasaran Berdasarkan Azas Kecukupan (terutama pada Baduta)
Untuk menghindari pemborosan penggunaan sumber daya yang tersedia serta mempertimbangkan urgensi dalam penyelamatan dan peningkatan pengembangan SDM dini, maka dalam revitalisasi Posyandu perlu memberikan perhatian khusus untuk pelayanan pada kelompok Baduta berdasarkan kecukupan pelayanan Kelompok Baduta sebagai kelompok yang paling rentan terkena gangguan dalam proses tumbuh kembangnya. Dengan menguatkan kapasitas Posyandu untuk Deteksi Dini dan memperbaiki pertumbuhan anak Baduta, serta mencegah peningkatan gangguan gizi yang tidak perlu terjadi.

7.  Memperkuat dukungan pendampingan dan pembinaan oleh tenaga professional dan Tokoh Masyarakat
Secara teknis pendampingan dapat dilakukan oleh tenaga professional pada saat posyandu buka, yakni melalui pelayanan pada meja 2, 3, 4, dengan cara meningkatkan keterampilan kader dalam menimbang, mencatat hasil penimbangan pada kartu KMS maupun register dan memahami hasil penimbangan, serta melakukan penyuluhan perorangan tentang hal-hal yang perlu diketahui oleh para ibu baik untuk dirinya maupun untuk anaknya.
Secara teratur pembinaan harus dilakukan oleh pengelola Posyandu di desa untuk memajukan penyelenggaraan Posyandu. Pembinaan juga dilakukan oleh Kelompok Kerja dan analisis Posyandu Kecamatan, bidan desa, dinas pendidikan, BKKBN, kepala desa dan tim penggerak PKK.


Pada Tanggal 17 dan 18 Desember 2012 yang lalu Puskesmas Lindu bersama kami tim Pencerah Nusantara melaksanakan pelatihan Kader Posyandu yang bertempat di Puskesmas Lindu. Pelatihan yang jika mengikuti kurikulum pelatihan kader maka seyogyanya pelatihan tersebut dilakukan selama 5 hari. Akan tetapi dengan berbagai pertimbangan dari tim puskesmas dan tim Pencerah Nusantara maka dibuatlah pelatihan untuk 2 hari saja. Kamipun harus merapatkan kembali materi-materi apa saja yang harus dan wajib kami berikan pada peserta pelatihan dari 11 materi yang ada di kurikulum pedoman pelatihan kader Posyandu. Materi tersebut adalah:

1.      Persiapan dan pelaksanaan Posyandu (Pelaksanaan kegiatan 5 langkah)
2.      Penggerakan Masyarakat dan kunjungan rumah
3.      Teknik mengisi dan membaca KMS
4.      Pencatatan kegiatan Posyandu
5.      Penilaian masalah sasaran Posyandu. 

Dari ke 5 materi diatas tim pemateri yaitu gabungan dari Puskesmas Lindu dan Tim Pencerah Nusantara membuat materi dan menyampaikannya secara maksimal. Beberapa materi seperti Persiapan dan pelaksanaan posyandu, teknik mengisi dan membaca KMS serta materi pencatatan kegiatan Posyandu dilakukan simulasi oleh kader peserta pelatihan yang dibantu oleh fasilitator.
Pada akhir acara pelatihan kami membuat suatu forum diskusi antara peserta pelatihan dan petugas puskesmas. Pada forum ini dibahas tindak lanjut apa yang akan dilakukan oleh masing-masing Posyandu serta membuat surat pernyataan yang isinya bahwa para kader siap mensukseskan Posyandu di desa dan dusun masing-masing. 

Pelatihan kader sendiri adalah langkah awal yang wajib dilakukan dalam proses revitalisasi posyandu. Maka masih panjang perjuangan untuk mengaktifkan kembali Posyandu di Kecamatan Lindu untuk menjaga anak-anak penerus bangsa dari kesakitan dan tumbuh kembang yang tidak maksimal karena ketidaktahuan ibu akan kesehatan anak dan kekurangan ilmu para ibu hamil akan pentinganya gizi bagi mereka dan perkembangan janinnya. 

Rasanya satu tahun tidaklah akan cukup bagi kami untuk melakukan itu semua. Satu tahun waktu yang sangat singkat. Hingga sekarang kami terus melakukan advokasi ke pihak pemerintah desa serta ke pihak kecamatan untuk menggiatkan kembali PKK yang ada disana serta kembali mengalokasikan dana mereka untuk sector kesehatan (Posyandu). Seyogyanya Posyandu adalah dari masyarakat dan untuk masyarakat sendiri. 

Kami menyadari bahwa menumbuhkan rasa memiliki masyarakat terhadap Posyandu bukanlah perkara mudah. Banyak pihak yang harus di “colek” atau harus di “Jitak” atau bahkan harus di “cubit” sedikit untuk “membangunkan” mereka dari tidur panjangnya.

Anak-anak bangsa ini harus tumbuh bersama gembira, bersama sehat, bersama belajar disekolah, bersama kelapangan dan rasa sayang dari semua pihak.

Sedikit dari kami untuk satu tahun kedepan, semoga mampu memberi rasa kepada anak-anak disini bahwa kami menyayangi mereka, bahwa kami mecintai mereka dan mencintai Indonesia yang sehat dan bersahabat.


Lindu, 23 Desember 2012
Pukul 21.00 WITA
Utri Kularia           
Pencerah Nusantara Lindu Batch 1