Rabu, 02 Januari 2013

Gempa, Pesta Rakyat dan Otto


“Semalam ada gempa, sekitar jam 2 pagi” 

“Salam” pagi setelah ”Assalamu`alaikum” dari bu Ida yang menjadi asisten rumah tangga kami pagi ini, mengagetkan. Bukan apa-apa karena dari kami berempat para perawan yang biasanya ”super sensitif” terhadap gerakan dan suara yang terjadi dirumah saat tidur, kali ini tidak merasakan apa-apa. 

Barang yang wajib ada didekat kepala saat tidur

”yang bener bu, sekitar jam berapa???” tanya saya berusaha meyakinkan diri sendiri. Saya yang untuk merubah posisi tidur dari miring kanan ke miring kiri saja bisa dipastikan selalu terbangun ini tidak merasakan.  ”Iya, orang suami saya langsung bangun dan pegangan di dinding sambil bilang bagaimana ya rumah dokter di atas sana...??” Kondisi rumah yang kami tempati memang mengkhawatir, khususnya bangunan bagian depan yaitu ruang tamu dan satu kamar di bagian depan sudah banyak retakan. Seperti ini contohnya:

Retakan yang makin lebar yang tadinya
hanya retakan garis di dinding batas ruang depan dan ruang tamu

Retakan disudut atas pintu depan rumah.
Tanggal 20/12/12 jam 7 malam sudah rontok dinding ini karena gempa susulan

Retakan dikamar depan

Dan masih banyak retakan lainnya. Ah, lagi-lagi gempa... Sudah 7 kali gempa terjadi selama kami disini. Hampir genap dua bulan tinggal di daerah yang memang menjadi jalur patahan kalo saya tidak salah patahan itu namanya patahan ”sesar”. Kalau kita melihat peta pulau Sulawesi itu, Sulawesi Tengah terutama kota Palu berada ditengah-tengah lekukan hurup ”K” nya. Jadi sebelum patahan itu menemukan tepat PW (Posisi Wuenaknya)nya untuk ”duduk tenang” dia akan terus bergerak untuk menemukan jalan tempatnya berlabuh dan kemudian berhenti berguncang.

Lindu, adalah daerah yang dikenal dengan danau Lindu-nya yang cantik. Tepat ketika kami membuka pintu rumah kemudian memutar badan kekiri hamparan danau Lindu berpagar perbukitan kokoh menyambut. Danau Lindu berada di kawasan konservasi, suaka marga satwa yang ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan (SK) Menteri Pertanian Republik Indonesia No. 522/Kpts/Um/10/1973.


 Danau Lindu Pagi hari



 Bersama Bapak Camat Lindu

 Foto didepan kantor camat yang rubuh karena gempa




Nah, untuk kepentingan masyarakat didalam kawasan hutan lindung tersebut, pada tahun 1980 – 1981 ditetapkan bahwa danau dan perkampungan disekitarnya sebagai enclave dan tidak termasuk kawasan hutan Lindung. Masyarakat yang tinggal di sekitar danau lindu terdiri dari empat desa terintergrasi yaitu desa Puroo, Langko, Tomado (tempat kami tinggal sekarang) dan desa Anca.

Perjalanan menuju Lindu dimulai dari kota Palu ke arah selatan menuju desa Sadaunta yang jaraknya kurang lebih 63 km dan batas sinyal HP hanya sampai disini.


Pangkalan Jeko (baca:ojek) menuju Lindu dari desa Sadaunta




Selanjutnya...
Taraaaaaaaaaaaaa....
dari desa Sadaunta inilah petualangan dimulai.... 
Jalan menuju Lindu

Separuh perjalanan ditempuh dengan jalan kaki


Sebelum gempa dahsyat tanggal 18 September 2012 yang lalu dengan kekuatan 6,3 SR mengguncang, jalan dari desa Sadaunta menuju kecamatan Lindu masih berupa jalan setapak. Masyarakat dari Lindu menuju Sadaunta atau dari Sadaunta menuju Lindu akan menempuh jarak kurang lebih 17 km menyusuri hutan lebat dengan jurang disatu sisi dan tebing tinggi menjulang disisi lainnya. 


Salah satu longsoran tebing, jika hujan deras turun, siap-siap longsor susulan


Menurut cerita warga Lindu sendiri kendaraan roda dua sendiri baru bisa menembus jalanan Lindu pada tahun 2004 yang lalu.  Sebelum itu warga hanya menggunakan Kuda (Kuda Pateke atau kuda pengangkut) atau berjalan kaki menuju jalan raya Sadaunta.

Setelah gempa dengan kekuatan 6,3 SR  terjadi pada 18 september 2012 itu, banyak longsoran terjadi dan menyebabkan tertutupnya akses menuju Lindu. Beberapa hari pasca gempa lindu tidak berhenti diguyur hujan, sehingga longsor makin sering terjadi. Korban gempa tidak bisa mendapatkan pertolongan dan petugas yang dari Palu pun sebaliknya tidak bisa mengakses Lindu karena tertutupnya jalan. Sampai beberapa hari sebagian bantuan didistribusikan lewat udara dan perbaikan jalan mulai dilakukan . Sekarang, jalanan Lindu yang berpuluh tahun lalu hanya bisa dilalui oleh kuda pateke (kuda pengangkut) kini mulai dibangun dan diperlebar. Pembangunan jalan dijadwalkan akan selesai Januari nanti dan akan ditandai dengan pesta rakyat sebagai ucapan syukur masyarakat Lindu. Pesta rakyat itu sendiri direncanakan akan di hadiri oleh Gubernur Sulawesi tengah beserta jajarannya sekaligus meresmikan pembukaan jalan. 

Hikmah dibalik bencana gempa yang terjadi, tahun 2013 nanti direncanakan juga akan di bangun tower telekomunikasi sehingga nantinya HP yang dimiliki masyarakat Lindu tidak lagi hanya di tenteng untuk mendengarkan musik atau untuk nonton video saja, tapi juga untuk berkomunikasi lebih jauh dengan keluarga mereka dari kampung yang lain. Tentu saja ini juga akan memudahkan semua aspek kehidupan di Lindu termasuk kesehatan, salah satunya proses rujukan. Bagaimana tidak, selama ini ketika ada pasien yang akan dirujuk maka kami akan mengirimkan ojek untuk menyampaikan pesan ke desa Sadaunta untuk menyiapkan Ambulance agar ketika pasien tiba di Sadaunta segera bisa meluncur menuju RS di Palu. Tapi nanti kalau jaringan komunikasi sudah dibangun, kami tinggal telpon saja tak usah kirim ojek lagi untuk mengabarkan. Hemat biaya kanJ, karena mengirim ojek itu memakan biaya 75.000 jika jalan jelek, 50.000 jika jalan kering.

Hingga sekarang perbaikan jalan sudah hampir selesai dan dua hari yang lalu mobil Ranger milik bupati Sigi sudah berhasil menembus jalanan dari Sadaunta menuju Lindu. Bukan main senangnya warga, anak-anak berlarian mengejar mobil yang berjalan pelan menyusuri desa. Mereka berlari sambil teriak-teriak ”ada otto... ada otto... ada otto....” (Otto=mobil). 

Berlari mengejar Otto
Ini Otto pertama yang bisa menembus jalanan Lindu lho^^...
Ada traktor juga lho^^... Ini alat berat yang mebuat jalan menuju Lindu jadi lebar.. Alhamdulillah:)



Hampir semua warga keluar rumah menanti Otto pertama yang masuk desa mereka. Bagi sebagian warga yang sudah sering melihat hanya duduk saja di depan teras rumah, bagi sebagian lagi yang jarang bahkan belum perna melihat mobil ikut berjalan memdekati mobil yang terparkir di jalanan dekat puskesmas kami. Saya yang melihat peristiwa bersejarah bagi warga Lindu ini ikut terharu dan merasakan bahagia dihati mereka. Kemarin, tepat sehari sebelum tulisan ini saya buat, sudah tiba 10 mobil lagi sayangnya saya tidak menyaksikan karena sedang sibuk dengan Pelatihan Kader Posyandu tingkat kecamatan di Puskesmas. Menurut cerita dari bu Ida, anak-anak dari desa berlarian, mengelus-elus mobil bahkan ada warga yang berlari sambil membawa beras dalam genggaman menghampiri mobil dan menghamburkan beras tersebut sebagai tanda syukur ke mobil-mobil tersebut sambil berteriak: 

”Terima kasih Tuhan, saya hidup menderita selama ini di Lindu akhirnya ada otto bisa masuk kekampung kami.....” 

Teriring gempa kecil yang terus mengguncang, belum hilangnya trauma warga ketika gempa besar yang lalu, banyak kebahagiaan untuk Lindu terus berdatangan. Diantaranya Natal, Pesta Rakyat, pesta Tahun baru, April 2013 nanti akan diadakan Festival Danau Lindu... Lindu terus berbenah, lindu terus berkembang...


Lindu, 19 Desember 2012
Sore menjelang mahgrib, 17.00 WITA
(Sambil kengen ibu..... Ibu dirumah lagi ngapain ya...???)

Utri kularia – Pencerah Nusantara Batch 1 Lindu


Tidak ada komentar:

Posting Komentar