Jumat, 26 Oktober 2012

"Don't worry everything is going to be amazing"

28 Okteber 2012, bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda. Kami ke 32 orang yang dibagi kedalam 7 tim akan diberangkat ke wilayah penempatan masing-masing. Mentawai, Karawang, Pasuruan, Kalimatan Timur, Sulawesi Tengah (dua desa ogotua dan Lindu) serta Ende NTT. Saya terus terang khawatir pasti ada, memikirkan apa yang nanti akan kami hadapi di daerah penempatan, apakah kami akan diterima oleh masyrakata disana, apakah kami akan mampu membaur dengan mereka dan menjadi bagian dari mereka kemudian???... Banyak sekali pertanyaan di kepala saya sekarang. Detik-detik menjelang keberangkatan besok minggu 28 oktober 2012...


Perbekalan sudah dipersiapankan, mulai dari perbekalan diri sendiri sampai perbekalan ilmu apa-apa saja yang harus kami lakukan nanti pertama kali disana. Hampir semua mentor mengatakan kami harus membaur dan menjadi bagian dari mereka. Lupakan semua misi yang dibawa, lupakan semua PoA yang sudah dibuat, lupakan “kekotaan” kalian… Jadilah bagian dari mereka, pelajari perilaku mereka, pahami kebiasaan mereka, jadilah murid yang siap menerima ilmu-ilmu baru dari mereka yang disana. Jadilah kalian bukan “siapa-siapa” disana. Kata kakek saya, kalo ditempat orang jangan nakal, posisikan diri tidak tau apa-apa, minta diajari apa-apa yang biasa mereka lakukan, walo kamu tau tapi jangan sok tau, jadilah rendah hati. Nasehat kakek mirip dengan nasehat para mentor.

Hokeh… Siap laksanakan bapak/ibu guru….

Kami 7 minggu bersama, 32 orang ini sudah seperti keluarga baru buat saya. Kami menangis, tertawa, marah, gembira sama-sama. Awalnya tidak mudah menyatukan ke 32 orang ini dengan karakter masing-masing yang sama kuatnya. Sepanjang perjalanan, kami menemukan beberapa kesamaam yang kemudian menyatukan kami dalam satu ikatan persaudaraan yaitu bahwa kami semua menyadari bahwa kami adalah kumpulan orang-orang ‘gila’. Bagaimana tidak kami menyebut diri kami ‘gila’, untuk memutuskan bergabung dengan Pencerah Nusantara itu bukan perkara mudah untuk masing-masing individu. Banyak penolakan, penolakan dari keluarga terutama menjadi masalah yang hampir semua dari kami mengalaminya. Orang tua mana yang mau melepaskan anaknya untuk pergi kedaerah yang belum pernah mereka kunjungi, kedaerah yang masih ada suku dalam-nya, daerah yang menjadi perbatasan antar Negara, daerah yang rawan bencana, daerah antah berantah. Anak gadis pula, orang tua mana yang rela melepaskannya dimana mereka sudah siap dengan beasiswa untuk melanjutkan kuliah lagi ke luar negeri tapi anaknya merayu dengan kekuatan penuh sampai berurai air mata ditambah semangat ’45 pantang menyerah melancarkan rayuan agar diizinkan untuk meninggalkan beasiswa demi Pencerah Nusantara, ada yang meninggalkan orang tua yang sedang membutuhkan perawatan dari kami sebagai dokter, sebagai perawat karena orang tua sakit tapi berusaha meyakinkan ayah dan keluarga bahwa menjadi Pencerah Nusantara adalah donasi satu tahun kami untuk ibu pertiwi, untuk bangsa ini.

Akhirnya….. Ayah, ibu dan keluarga besar melepas kami di bandara, stasiun, terminal dengan derai air mata, peluk cium erat dan berjuta nasehat agar menjaga diri, berbuat baik di negeri orang. berangkatlah kami meninggalkan rumah menuju Jakarta untuk berkumpul mendapatkan pembekalan.

Pembekalan yang sudah dirancang sedemikian rupa, kami jalani. Padat merayap bahkan sabtu dan minggupun terjadwal dengan rapat. Kangen dengan rumah sudah tentu, kangen zona nyaman, pekerjaan mapan, keluarga, teman-teman dekat dan lain-lain. Tapi disini, kami ternyata diberikan Allah keluarga baru, orang-orang yang tak terbayangkan sebelumnya ternyata memiliki kegilaan yang sama, gila semangat dan tekad kuat. Kami saling menyemangati, saling mendorong untuk terus maju. Beberapa pelatihan menempah kami mulai dari pelatihan medis yang harus kami dapatkan diantaranya obstetric genekologi, gizi anak, pelatihan kegawatdaruratan medis dan bencana, serta penajaman ilmu vscan. Kurang lebih empat pekan kami ditempa untuk memdalami kembali ilmu medis yang sudah didapatkan dibangku kuliah sebelumnya.

Pelatihan dilanjutkan menuju Bandung, yang diawali oleh pelatihan survival dihutan bersama wanadri. Disinilah team building kami dipertajam kembali. Selama empat hari wanadri menempah kami dengan berbagai kecakapan untuk bertahan di rimba belantara. Kami diajari mulai dari apa itu integritas sampai dengan membuat bivak kelompok dan ber-solo bivak di tengah hutan. Ada beberapa pesan sederhana yang di tularkan oleh wanadri pada kami, khususnya saya yang sampai sekarang mengingatnya yaitu: “dalam kelas, boleh ngantuk, tapi gak boleh menguap”
kemudian “Kalau makan atau minum harus duduk”
kemudian, “kalau ada orang yang berbicara didepan harus mendengarkan dengan baik”
kemudian “tidak boleh merasa benar sendiri”
kemudian…. Dan kemudian.. kemudian lainnya…

Pelatihan Bandung, saya garis bawahi pelatihan ini benar-benar menguras emosi. Bagaimana tidak, di pelatihan leadership yang di sampaikan oleh DDI (Development dimensions International) kami di sentil dan kadang-kadang di “jedotin” habis-habisan tentang diri kami dan sikap kami dalam tim. Benar- benar… gimana gitu… Setelah tiga hari pelatihan endingnya adalah tangis-tangisan dan curhat ber 32 serta dilanjut lebih mesra lagi curhat bersama tujuh tim masing-masing penempatan.

Jeeeng… jeeeeeeng…. Terbukalah semuanya… Dan kami menyelesaikannya dengan senyum dan pemahaman yang lebih mendalam tentang teman-teman per tim penempatan dan tim besar ber 32.
Makin mesra lagi, dilanjut dengan curhat mendalam bersama 32 geng Pencerah Nusantara dalam materi pelatihan Psychological First Aid. Kami berbagi tentang hal tersulit apa yang pernah kami hadapi dalam hidup. Bagi sebagian teman ini tidak mudah untuk di ungkapkan, tapi ketika melihat teman-lain mau menceritakan cerita yang sifatnya sangat sensitive akhirnya memilih untuk menceritakan pengalaman hidupnya yang mungkin forum ini adalah forum pertama baginya membuka luka hati dan bercerita. Tentu saja ini berurai air mata.

Dan………… Pelatihan Bandung adalah menguatkan kami….

Akhir pelatihan Bandung, kami kembali bersama akang-akang Wanadri survival di hutan. Dimana kami dilatih untuk dipersiapkan menghadapi keadaan paling sulit. Mulai dari membuat bivak kelompok sampai dengan bersolo bivak, kemudian belajar mengenali makanan apa saja yang boleh dan tidak boleh kami makan dihutan, belajar mengenali ular, jenis ular, jenis bisa ular, cara menangani gigitan ular, cara berhadapan dengan ular jika bertemu (menyapa gitu deh… “Hallo ular…” :D ) sampai dengan bagaimana menangkap ikan dan menjerat atau menjebak binatang dihutan. Empat hari yang menyenangkaaaaaaaaaaaaaan…
Walo kaki kayak mau copot, badan kayak digebukin orang sekampung, mata sesepet-sepetnya mata, dingin sedingin dinginnya gunung, tak menyurutkan semangat dan keceriaan kami. Khas sekali kalau sedang stress, capek, lelah, pasti  kami akan bernyanyi sedemikian rupa hampir satu album (coba bayangin dulu :D…) dan satu lagu dicampur dengan lagu lainnya bersahutan sambil membuat bivak atau sambil memasak :D… Seruuuuuuuu….

Bernyanyi mampu mengalihkan kemurungan kami karena lelah, menjadi ceria kembali. Kami memilih menikmati suasana dan mengolahnya menjadi menyenangkan dari pada mengutuki atau menggerutu apa lagi meratapi keadaan. Inilah kami 32 orang ‘gila’ yang ceria J sampai ada sumpah Pencerah Nusantara ketika di pelatihan kegawatdaruratan medis dan bencana yang bunyinya “Kami putra putri Indonesia berjanji akan selalu ceria setiap hari….” Yah, dan kami melakukannya sampai hari ini J

Ah ada satu lagi, selama di bandung kami sempat bersilaturahim dengan Pengajar Muda, Indonesia Mengajar angakatan V yang juga sedang dalam masa pelatihan di Jati Luhur, Jawa Barat. Ketika itu Pengajar Muda sedang melakukan kegiatan social konsultasi kesehatan pada masyarakat kampung sekitar tempat mereka melakukan pelatihan. Kami datang bersilaturahim sekaligus bersama-sama melakukan kegiatan social. Kemudian dilanjut dengan ramah tamah, saling berkenalan dan berbagi cerita. Senang bukan main saat bertemu dengan teman yang ternyata satu nasib sepenanggungan karena gaya pelatihan mereka sama persis dengan gaya pelatihan kami :D… Saya berkenalan dengan tim Pengajar Muda yang ternyata akan ditempatkan di provinsi yang sama dengan kami. Senaaaaaaaaaaaaang^^… Akhirnya kami membuat janji, jika nanti ada waktu kami akan saling mengunjungi ketika saling mengambil cuti untuk main bersama….
Hokeh.. Sodara-sodara… Sebetulnya sambil menulis ini saya sendiri deg deg-an… bagaimana tidak, besok sudah akan berangkat dan survival sebenarnya akan kami jalani setahun kedepan. Entah apa yang akan kami hadapi disana. Semoga kami mampu memberikan yang terbaik dari yang kami miliki untuk negeri ini.
Kami, akhirnya tak sekedar mengutuki keadaan, tapi kami melakukan sesuatu untuk ibu pertiwi, untuk generasi penerus bangsa, untuk Indonesia….
Ada satu tulisan yang saya temukan di kantong plastic hitam ketika sempat berjalan-jalan disatu hari, begini bunyinya:
“Don't worry everything is going to be amazing”
Bismillah…. 

Hallo geng……….. “INDONESIAAAAAAAAAAAAA……”

Ini Aksi kami… Mana Aksimu….???

Selasa, 11 September 2012

PN Cucurhatan...

H - 5 Menuju pelatihan Pencerah Nusantara

Pertama-tama, saya senang sekali bisa bergabung dengan tim hebat bernama Pencerah Nusantara yang dibentuk oleh Kantor Utusan Khusus Presiden untuk Millennium Development Goals ini.

Terbayang oleh saya betapa banyak ilmu yang bisa saya dapatkan, betapa banyak teman baru yang akan saya temui, terbayang juga serunya pengalaman yang akan saya rasakan selama perjalanan penugasan nanti dan terbayang berapa banyak kebaikan yang bisa kami semua tebar di daerah penempatan kami masing-masing nantinya.

Maka, bersyukur kepada Allah yang Maha baik, sudah memberikan kesempatan emas. Kesempatan untuk berbakti pada negeri lebih banyak lagi, akhirnya tak hanya bisa mengeluh dan menggerutui ketidak adilan yang kerap terjadi.

Bismillah.. Semoga bernilai ibadah...

Minggu, 29 Juli 2012

Mengingat...



Salah satu tulisan yang selaluuuuu saya baca, untuk mengingatkan saya akan dia, ibu kami. Yang sederhana dengan keinginan sederhananya untuk kami, anak-anaknya...


Menjelang  Hari Ibu
setahun sekali
Bulatan di kalender mengingatkan
Akan jasa perempuan yang menyabung nyawa
melahirkan, bertaruh hidup dan mati
sembilan bulan sebelumnya lalui masa  lemah yang bertambah lemah
kurang tidur di malam karena berulang menyusui
mengganti popok basah atau sekadar merapatkan selimut
mengusiri nyamuk
berjaga, tak sepicing matapun berani  lelap
saat sang jantung hati demam tinggi

menjelang hari  ibu
setahun sekali , alarm berdering
mengingatkan  akan pengorbanan perempuan
yang giginya tanggal satu demi satu
karena tak  mampu membeli susu untuk dirinya sendiri
saat justru  mulut-mulut mungil tak  pernah kenyang menetek
perempuan sederhana dengan  daster lusuh dipakai bertahun
menunda berulang membeli yang baru  supaya ada jajan  untuk anaknya

Pekan ke tiga bulan penghabisan tahun
seperti mesin memberi  pertanda
untuk kembali mengingat
ada seseorang yang  berjam-jam terkantuk menemani  belajar,
menyodorkan minuman hangat atau penganan
memijiti bahu yang kaku menekuni buku
menderas doa
membasahi sajadah lewat panjang munajat di penghujung malam
prihatin meminta  Azza Wajala turunkan malaikat agar lancar  kita ujian
lalu tangan lemahnya membesut  aliran air di pipi,  berbinar  mata tersenyum lebar
memeluk erat  bahu  kita saat kelulusan

sudah lama sekali
dulu, lapang waktu tersedia berhandai-handai
mendatangi Ibu untuk cerita panjang lebar  kadang tak jelas  arah Barat Timur
ikut  tertawa gelak Ibu oleh lelucon bodoh kita,
tapi sabar pula berdiam menerima  curahan keluh kesah dan tangisan patah hati kita

lalu kini?
sudi maafkanlah anakmu ini
jika mencukupkan setahun sekali
untuk  tersentak mengingatmu
malu-malu menelpon atau mengirim pesan singkat
“selamat hari Ibu, kucinta padamu ”
merasa telah memadai karena membelikan karangan bunga
berganti-ganti,  bahan batik, cincin atau apa saja bingkisan untukmu
berkurang rasa bersalah karena engkau mengangguk penuh pengertian
bila banyak alasan kita sampaikan
ada tenggat waktu membuat laporan
ada projek besar  dengan keuntungan menjanjikan
ada calon klien prospektif yang harus dikejar
semua berjalan seperti itu, bertahun-tahun bagai kelaziman
hingga hari ini

Terduduk lemas aku,  lunglai bagai tulang tak lagi menyangga tubuh
di dekatku seorang sahabat menggerung tangis
meraung di depan jenazah ibundanya
tak berhenti meratap :
“ibu jangan pergi, jangan tinggalkan aku
aku belum bisa membahagiakanmu
tahun depan kita berhaji,
ibu capek? sini  aku pijati
Bu jangan  meninggal sekarang
ayo bu,  kita ngobrol  lagi
Bangun Bu, bangun, aku  ambil cuti untuk antar kemanapun kau ingin pergi..”
kenapa  ibu  mesti  wafat sekarang?”

Jangankan menghibur sahabat
kelu lidahku tak kuasa bicara  apapun
sembilu tajam mengiris-iris hati
tanpa suara, batinku menjerit, merutuki diri
ilahi Robbi
bodoh benar aku karena tak jua tahu
bahwa memuliakan  perempuan mulia yang biasa dipanggil ibu adalah mega proyek
bahwa pahala karena berbakti padanya adalah keuntungan tak terbilang
bahwa berkejaran dengan lanjutnya usia ibu adalah deadline
bahwa  Ibu  amat berharga sebagai “klien”  dan
berupaya membahagiakannya adalah bagian dari  orientasi “customer satisfaction”
bahwa catatan setiap kegiatan kecil tuk menyenangkan ibu
menjadi  “report” yang akan dibawa malaikat
untuk  penunaian amanah   Nabi : “ ibumu, ibumu, ibumu, utamakanlah”

Duhai   Allah
hamba malu untuk meminta
menambah panjang daftar ajuan  doa
menyelipkan  di antara permohonan agar sukses karir jabatan berlimpah harta
untuk  MAMPU MENJADI ANAK YANG BAIK BAGI IBU
masih adakah kesempatan  bagi hamba ?

Depok,  21 Desember 2011
Rabu hampir tengah malam, menjelang hari Ibu.
dipersembahkan  untuk almarhumah ibu tercinta
& bagi setiap mereka yang masih beruntung mempunyai ibu

Dumilah Ayuningtyas


Pasti kita perna kesal dengan omelannya, perna bosan dengan "perintah2"nya. Disuruh makanlah, nyuci piringlah, belajar masaklah, "anak gadis harus pandai masak, tinggi apapun gelar sekolah kalian tetap dapur harus diurus" omel ibu. Saya, kesal waktu itu. Konsentrasi belajar jadi terbagi karena harus mendengarkan suaranya tapi merasa berdosa kalau tidak mendengarkan nasehatnya.

Pernah juga tak menelpon kalau tak penting. Penting versi saya adalah butuh uang untuk bayar kosan dan bayar kuliah. Maka baru menelpon kerumah. Jarang sekali bertanya bagaimana kabarmu ibu? hari ini makan apa? diladang mengerjakan apa saja? Masihkan ibu panen semangaka yang banyak itu?? Apa semangkanya manis? Bahkan pertanyaan ringan begitu saja saya tidak terpikir untuk mencari tahu.

Sampai ibu terbaring di rumah sakit tersentak hati saya. Apa yang sudah saya lakukan??
Ibu sakit karena terlalu banyak bekerja, ibu sakit karena tidak ada yang menjaga dia dirumah, ibu sakit karena makannya tidak ada yang mengingatkan.
ibu sakit....
Bahkan untuk dirinya sendiri dia kadang lupa, apakah sudah makan yang cukup, gizinya cukup, minum cukup, istirahat cukup. Ibu lupa itu. Jika sudah bekerja di ladang, yang dia ingat, kalau ladang ini berhasil maka anak-anaknya bisa membayar sekolah, bisa membeli pakaian bagus, tidak malu lagi kalau bergaul dengan teman-temannya. Ibu tidak pernah tau bagaimana nilai kami, bagaimana sulitnya kami belajar, bagaimana kami meneteskan air mata hanya karena file tugas kuliah yang hilang dan harus mengetik ulang dari awal. Ibu tidak pernah tau.
Bagaimana ibu bisa tahu, kalau kami bercerita tentang itu semua, ibu tidak akan memahami, ibu bilang "Karena ibu cuma selesai SD, itupun dengan susah payah, bagaimana ibu paham apa yang kalian ceritakan, ibu hanya bisa memberi uang, berapapun yang kalian minta, ibu akan carikan..." Mengalirlah cerita ibu, bahwa kemiskinan membuatnya takut bertanya dan melakukan hal-hal yang menyenangkan. Ibu takut kalau dia sedikit saja bersenang-senang, kami, anak-anaknya tidak bisa membeli buku, membayar sekolah dan membeli baju bagus, karena uang yang dikumpulkan dengan susah payah memanggang kulit ditengah ladang habis untuk hal-hal yang tidak penting. 

Itulah ibu kami. Kemiskinan menjadi makanan dan membentuknya.
Kami, bahkan hampir tak merasakan kesulitan hidup yang berarti, karena kami ber-ibu-kan beliau. Makan cukup, susu cukup, uang jajan cukup, sekolah tinggi, dan bekerja ditempat yang baik.
lalu ibu sakit, saya disentil sedikit oleh Allah... Hanya sedikit... Siapalah saya tanpa ibu.
Melepaskan semua pencapaian, untuk ibu, itu bukan apa-apa dibanding dengan semua yang sudah ibu lakukannya untuk kami.

Suatu pagi ibu menangis, saya tanya kenapa, rupanya ibu menangis karena memikirkan sakitnya. Bagaimana kalau ibu sudah tidak ada, kamu jangan nakal, jaga adik-adik, sekolahkan adik bungsumu, ajari dia kalau dia tidak bisa, ibu tidak punya harta yang bisa dibagi, hanya ilmu yg sudah kau raih itulah warisan ibu.... Terus ia menangis sesenggukan.
Demi Allah, beku hati saya, beku sekali...
Akhirnya saya menangis bersama beliau, memijit-mijit kakinya tidak tau apa yang bisa membuat ibu terhibur. "Jangan bicara begitu, sakit ibu tidaklah parah. Asal rajin minum obat dan jangan bekerja terlalu berat, itu sudah cukup." Susah payah kalimat itu keluar dari mulut saya sambil menangis. "Kita akan terus berobat, sampai ibu sembuh..." Hibur saya.
"Penyakit ini susah sembuh, hati ibu akan mengeras dan jadi kanker...."
Ya Allah, ibu berpikir terlalu jauh. Mungkin salah saya yang mengatakan, kalau ibu tidak rajin minum obat penyakit ini akan jadi parah dan bisa jadi kanker. Ini salah saya, jelas salah saya. Rupanya ibu mengingat apa-apa yang saya katakan.
Ya Alloh... Ampuni saya yang belum bisa berkata lembut, tak pandai memilah kata dan belum sensitif pada keadaan ibu..... Pelajaran sangat berharga pagi itu.....

Kini, hasil pemeriksaan terakhir sangat baik, alhamdulillah... Kami atau ibu yang menelpon hampir setiap hari, setiap menelpon minta di do'akan agar semua cita-cita dimudahkan Allah. "Do'a ibu cepat didengar dan dikabulkan Allah bu..." Kata saya... "Iya, tiap solat ibu selalu do'akan"...Nyeeeeeeeeeesss.... Adem banget rasanya:)..

Tadi pagi takziah ke seorang teman yang ditinggal berpulang oleh ibunya... Meninggal karena kanker... Kami saling menguatkan dan mendo'akan.
Dalam hati saya "Apa jadinya saya jika diposisi teman saya ini???.." Beraaaaat sekali pasti...

Betapa beruntungnya saya masih memiliki ibu... Alhamdulillah....



Palembang
Menjelang tengah malam, 29 Juli 2012,
11.39 wib


Utri



Rabu, 25 Juli 2012

11 Tahun

Assalamu`alaikum...

11 tahun...
lama juga ya, kalau manusia umur 11 tahun itu lagi menjelang pubertas, lagi galau-galaunya, lagi alay-alaynya, lagi susah makannya, lagi banyak jerawatnya (Ups, pengalaman :D..), lagi bersemi-bersemi pokoknya mah, menjelang remaja ceritanya.

Alhamdulillah... 11 tahun sudah mengenakan hijab ini. Perubahan besar yang saya lakukan sebelas tahun yang lalu, membawa cerita tersendiri. Tak mudah memutuskannya untuk anak remaja seumuran itu. SMU kelas 1. Lagi asik-asiknya bermain, mencoba hal baru sebanyak mungkin dan bergaul. Tiba-tiba menjadi berbeda dari teman-teman yang lain, cara berpakaian sampai cara berpikir akhirnya pelan-pelan menjadi berbeda.

Seperti yang saya tulis diatas, seumuran SMU kelas 1, lagi mekar-mekarnya, lagi bersemangat mencoba hal-hal baru. perubahan terjadi mulai dari perilaku, sampai bentuk tubuh. SMP kelas 3 sebenarnya saya sudah mulai tidak nyaman dengan perubahan yang terjadi. Perasaan saya ketika itu, hampir semua mata melihat kesaya sepertinya dengan semangat '45 ingin menelan saya. Huhuhu :'(... Padahal pakaian saya ketika itu gak aneh-aneh, paling suka pakai kaos oblong sama celana gombrong. Gak suka pakai pakaian ngikutin gaya anak remaja waktu itu. Walo koleksi baju saya ada juga yang agak ngepres badan, tapi tetep dengan lengan panjang dan rok panjang.

Ketidaknyamanan itu akhirnya berakhir ketika saya memutuskan dengan tekat bulat untuk mengenakan hijab. Kelas 1 SMU mulai aktif ikut Rohis SMU. Awalnya lebih karena mentor di sekolah adalah mba-mba dan mas-mas yang pinter-pinter. Dulu mba-mba dan mas-masnya ada yang kuliah di FK Unsri, Teknik ITB, teknik Unsri, FE Unsri dan lain-lain. Dalam hati saya, mentor-mentor organisasi ini pinter-pinter, mau banget seperti mereka, rahasia mereka apa ya? kok bisa pinter seperti itu? Makin tertarik dengan mentor2 itu dan mau mencari tau apa sebenarnya rahasia mereka sampai mereka bisa seperti itu membawa saya makin semangat datang ke acara-acara Rohis. Semua hal diatas mempengaruhi saya untuk memutuskan berjilbab. Orang pakai jilbab panjang dan baju longgar gak bodoh kok, mereka yang pakai celana jingkrang semata kaki, pake jenggot tipis ternyata keren-keren lho. Buktinya mereka adalah calon-calon dokter dan enjiner keren. Kesimpulan saya saat itu bawa jilbab gak akan menghambat prestasi seseorang.

Akhirnya bilang ke mama bahwa mau pakai jilbab aja sekolahnya, dan dirumah juga mau pakai jilbab, kan gak boleh sembarang orang yang bisa lihat saya ma, begitu saya katakan. Dengan berbagai penjelasan akhirnya disetujuilah oleh mama. Walaupun diujung kalimat persetujuan itu dibilang "mama belum punya uang kalau mau membeli baju dan rok baru serta jilbabnya". Tapi temen-temen rohis dengan senang hati menjawab dan membantu permasalah kami saat itu.

Pagi-pagi sekali setelah solat subuh saya putar badan kiri, putar badan kanan didepan cermin mematut2 diri sebentar dengan baju, rok dan jilbab. Alhamdulillah, hari pertama kesekolah dengan jilbab. Baju dan rok sekolah bekas yang masih layak pakai milik salah satu teman di rohis, serta jilbab pemberian mentor rohis juga. Ingat sekali, baju yang diberikan ke saya tidak ada lokasi sekolah dan nama. Tapi karena saya pakai jilbabnya panjang menutup dada dan bahu, guru-guru gak berani periksa. Jadi tiap pemeriksaan kelengkapan seragam saya selalu lewat :))... Alhamdulillah(^_^)...

Hari pertama saya masuk sekolah dengan jilbab disambut takbir semua teman2 dimushola sekolah dengan memeluk sambil menangis. Akhirnya pakai jilbab juga. Ucapan selamat dan do`a-do`a terlantun, semoga tetap istiqomah dan terus berjuang untuk islam.. Senang rasanya disambut dido`akan layaknya orang yang baru tiba dari suatu tempat yang jauh, orang yang pindahan dari satu tempat ketempat yang lebih baik. Mungkin ini rasa yang namanya "hijrah" itu.

Akhirnya perjalanan panjang dimulai. perjalanan yang diwarnai pelangi, ibarat mendaki, ibarat mengarungi sungai berjeram tajam. Banyak ceritanya, bertemu teman yang begini, bertemu teman yang begitu. Mendapat kabar teman yang melepas jilbabnya dengan berbagai alasan, dari pekerjaan sampai pinda keyakinan. Mendapati berita yang dulunya rajin ngaji, paling solehah dimata kami, paling semangat diberbagai acara dan kepanitiaan mendapatinya tak lagi melakukannya dengan berbagai alasan. Yah, sepanjang waktu berlalu, perjalanan menujuNya berliku dan tajam. Siapa yang tahu kapan Allah akan mengambil kembali hidayah yang telah Dia berikan, semuanya dari Allah, maka kita yang dipinjami selayaknya menjaga dengan baik. Siapa yang menjamin kalau nanti kita berpulang ternyata dengan tangan kosong tak membawa sedikitpun bekal karena penodaan kita terhadap hidayah yang Allah berikan. Maka menjaga lebih sulit dari pada memulainya dulu. Bahkan kita yang berjilbabpun belum tentu lebih baik dari saudara kita yang belum berjilbab. Maka perbaikan diri terus menerus menjadi teramat penting... Jangan sampai Allah marah dan mengambil hidayah ini.

11 tahun, semoga tetap istiqomah, tetap dipercaya oleh Allah untuk menjaga hidayah ini....

Aamiiin...





Juli yang produktif ya:))... Alhamdulillah, penuh semangat menuliskan tiap peristiwa yang nantinya akan jadi kenangan.

Utri


Jumat, 20 Juli 2012

Ramadan (lagi)

Alhamdulillah... Alhamdulillah.. tsuma Alhamdulillah....
Terimakasih ya Allah, Ramadan datang dan kami sekeluarga masih lengkap bersama bisa menunaikan ibadah dibulan ini. Walaupun kami terpisah jarak, orang tua berdua beserta adik ke 3 sedang dikampung, saya dan adik bungsu di Palembang, adik ke 2 di Jambi, tapi tak mengurangi kebersamaan dan kehangatan keluarga ini. Alhamdulillah...

Beberapa hari yang lalu berturut-turut menerima kabar duka dari beberapa keluarga dan mengunjungi mereka yang mendapatkan ujian Alloh itu. Sepertinya Alloh kembali mengingatkan saya dan sekeluarga bahwa umur, jodoh, rezeki bukan kita yang punya, bukan atas kehendak dan pengaturan kita. Dalam harta kita ada hak-hak orang lain yang harus di tunaikan, tiap kedatangan (kelahiran) akan ada waktu untuk kita kembali pulang.

Mereka yang berpulang dalam usia muda, produktif pula, berpulang menjelang Ramadan, sampai disitulah perjalanan mereka. Sungguh, tak ada satu makhlukpun yang tau kapan dia akan dijemput untuk kembali pulang. Kita juga nanti akan kembali, hanya menunggu "antrian" saja, giliran kitapun akan tiba.

Mereka yang terbaring sakit di rumah sakit, dalam raga gagah mereka. Kesedihan mereka dan keluarga yang di ujiNya. Mereka ber-Ramadan dengan ujian, kegelisahan, kesedihan, menahan rasa sakit serta rasa harap cemas bertumpuk-tumpuk.

Sementara kita, masih diberikan kesempatan untuk ber-Ramadan bersama keluarga, masih berkesempatan menangguk pahala sebanyak-banyaknya yang tergelar sepanjang harinya... Alhamdulillah...

Pengingat dan pelajaran untuk saya dan keluarga...

Alhamdulillah kita ber-Ramadan lagi, masih sehat, bahagia, berkecukupan, bersemangat. Nikmat Alloh yang tak ternilai. Maka tak ada alasan untuk kita "menyia-nyiakan" Ramadan kali ini. Bukankah ibadah itu adalah bentuk syukur, terimakasih kita padaNya...
Jadi mari bersyukur, telah di pertemukan dengan Ramadan lagi, bulan penuh ampunan, penuh kabul segala do'a juga bulannya Qur'an, bulan yang paling baik dari seribu bulan.

Betapa beruntungnya kita masih bisa ber-Ramadan, masih bisa memanjatkan berlusin pinta do'a.
Malu rasanya, panjang daftar do'a dibuat dan di ingat, tapi apa saja yang telah di lakukan dalam menjalankan perintahNya??... Tak ada banding dengan nikmat yang mengalir dariNya hingga detik ini dan tak akan bisa terbeli oleh kita sampai kapanpun.

Alhamdulillah... Alhamdulillah tsuma Alhamdulillah...
Ramadan datang... Hujan pahala terbentang...
Semoga kita sehat dan bersemangat hingga tuntasnya Ramadan...
Aamiin...

Sabtu, 14 Juli 2012

Depok...

Assalamu`alaykuuuuuuuuuuuuuum^^....
Ini dia si lucu kami, namanya Faruq...  Gemes yaaaaaaaa^^...

Namanya Faruq, anak temenku si (Belum punya baby sendiri, yah gini deh :D...)

Sebetulnya sudah perna ketemu sama Faruq, dulu sekali waktu acara di NF Putri di Depok. Tapi faruq-nya masih berumur 7 bulanan di dalem rahim ibunya :))....
Sekarang ketemu lagi deh sama Faruq saat usianya sudah 9 bulan.

Okay, ini dia kronologis waktu ketemu Faruq:


Pertama kali ke Depok setelah berlelah-lelah di Jakarta beberapa hari, akhirnya bisa mampir ke Depok juga. Memang sudah diniatkan dari Palembang, kalau nanti selesai aktivitas di jakarta akan mampir ke Depok untuk silaturrahim dengan beberapa teman dan khususnya Faruq dan keluarga (Tapi gak sempet foto2 bareng Faruq, foto diatas diambil dari koleksi FB ibunya).


Hari pertama tiba di Depok sudah siang. Hal pertama yang dilakukan adalah berburu dan memborong beberapa benang rajut yang keren-keren itu dulu di  Detos, salah satu emol di Depok. dapet banyaaaaaaak deh dan bagus-bagus. Sampe gak nyadar kalo dana yang tersedia sangat terbatas akhirnya harus menahan "nafsu" untuk berburu benang lebih jauh :D (Nasiiiib yah...)
Puas berburu benang, tak terasa sudah malam, pulang dulu kalo gitu. Besok lanjutkan bersilaturrahim kebeberapa teman.


Hari ke dua, dilanjutkan dengan silaturrahim ke kampus. Tanpa memberi tahu dosenku yang akan ku kunjungi aku dateng aja dengan PD ke Fakultas. Entah beliau ada atau gak, pokoknya dateng aja dulu. Setelah sampai departemen, masuk dan.. Jeeeng.. Jeeeeeeeeeng... Sudah berubah euy posisi kantornya. Kaget juga, tapi senang karena mba-mba dan mas-mas disana masih mengenaliku :D... Semua kaget, semua senang, hehe... Rupanya semua orang fakultas lagi pada heboh sama ujian, baik skripsi, tesis sampe ujian disertasi. Okeh, itu berarti lagi pada riweeeeh ya... Bener aja, Bu Tyas yang menjadi target "kaget"an ku lagi dikelas, menguji tesis mahasiswanya. Okeh, nunggu deh, gakpapa. Oleh-oleh di tinggal dulu di ruangan beliau. Aku makan siang dulu kali ya... Saatnya silaturrahim sama ibu-ibu kantin... Rupanya kantin sudah dipindah posisinya karena ada pembangunan gedung baru di samping fakultas, kantinpun tak luput di "gusur" juga. Setelah sampai kantin, ibu-ibunya belum pada pindah ternyata. Mereka masih bertahan. Pesan makanan dan menyapa mereka satu-satu. ada beberapa yang curhat kalo kantinnya jadi sepi karena dipindah sampai ada yang nanya "Sudah nikah ya mba...???" Saya cuma nyengir dan jawab "Do`ain ya bu, semoga disegerakan dan saya dikasih Alloh suami yang pas :)..." udah, tutp diskusi kalo gitu :D (Gak mau ditanya-tanya lebih jauh :D...)


Selanjutnya, adalah kembali ke departemen Administrasi Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia :)).... Eh, si ibu belum kembali ke ruangan rupanya. Ok, nunggu aja deh... Gak lama, ketemu adek-adek yang baru selesai sidang dan menunggu giliran ujian sidang skripsinya. Jadi inget dulu pas mau ujian, nangis dulu, selesai ujian juga nangis :D... (Hadeeeuuu... akhirnya skripsi memberi tau saya bahwa saya cengeng juga :D...)

Gak berapa lama nunggu, si ibu nongol juga... Seperti biasa, saat ketemu saya disambut dengan teriakan beliau yang khas.... Dari jauh beliau liat saya dan teriak, "Ya Alloooooooh... ada utri, si anakku yang hilaaaaaaang..." sambil mengembangkan kedua tangannya yang memegang berkas-berkas untuk memelukku. Aku langsung menyambutnya dengan sukaaaaaaaaaa cita^^ (luv u mom...)
Khas sekali tiap bertemu ibu setelah lulus dan tidak membantu beliau lagi sapan khasnya padaku adalah "anak hilang". Dulu ceritanya saya sempat membantu beliau cukup lama hampir 3 tahun. Banyak hal yang kami lakukan, tak hanya sebatas perkuliahan, tapi juga sampai pada hal-hal lainnya. Singkat cerita, kami sudah seperti ibu dan anak. Terakhir membantu beliau adalah membantu disertasi. Setalah beliau menyelesaikan sidang terbuka dan bersalam-salaman menerima ucapan selamat dari orang-orang, aku minta izin untuk pulang kampung. Di izinin si, walo mendadak dan beliau kaget juga. Pulanglah saya dan akhirnya jadi lama baru pulang ke depok lagi :D... beberapa bulan setelahnya saya kembali untuk beberapa urusan, mulai deh disapa anak hilang, walo sepanjang saya "menghilang" kita sms-an dan email-an juga :D...


Begitulah, akhirnya membantu beliau membuat powerpoint dan menggantikan beliau dikelas selama satu jam karena rupanya diselah kelas beliau ada jadwal menguji tesis, akhirnya aku membantu memfasilitasi mahasiswa untuk menyelesaikan tugas dan prisentasi sampai belaiu selesai. Dan sudah sore aku pamit pulang karena ada janji demngan teman yang lain. Walo besoknya beliau meminta untuk datang kekampus lagi, tapi aku gak bisa karena jadwalnya padat merayap :D... #Sok sibuk:))...


Hari terakhir di Depok, saatnya main kerumahnya itu tu... Yang fotonya gede di atas itu^^..... Iya, saatnya main kerumah Faruq. Kemaren aku mendapat berita Faruq baru pulang dari RS. Waaah, makinlah aku mau ketemu dengan si imut itu.
Agak mencari-cari sebentar rumahnya Faruq, alhmadulillah ketemu juga. eh, mereka cuma berdua aja dirumah. Rupanya mbah uti Faruq sedang melayat tetangga yang meninggal.


Pertama ketemu: "Assalamu'alaykum.. Faruuuuq... :)"
Faruq ngeliataiiiiiiiiin aja dari gendongan ibunya... Kami terus ngobrol berdua ibunya Faruq, eh rupanya si imut ini masih terus ngeliatain. Mungkin pikirnya "Siapa ya aunty ini...?? Kok gak asing kayaknya... Hmmm... Jilbabnya panjang, kayak jilbabnya ibu.. Hmm... Siapa ya..??" Kira-kira begitu kali ya :D #Ngarang


Ku panggil lagi "Faruuuuuq, Faruq apa kabarnya...?? Faruq katanya sakit ya..." Begitu aku mulai ngajak si lucu ini ngobrol... Tak di nyana tak diduga Faruq ketawa lebar dan malu menyembunyikan muka ke ibunya. Hehehe... Mulai suka ni kayaknya Faruq sama diriku... Ok, kita cuci tangan daaaaaaaaan... Berpindahlah Faruq dari gendongan ibunya ke gendonganku... Horreeeeeeeee... Berhasil menaklukkan hati si imut ini :))


Rambutnya, matanya, huhuhuhuh... Gemeeeees^^...

Faruq itu manis sekali :)....


Akhirnya kami harus meninggalkan faruq bersama mbah uti dirumah. Ibunya faruq mau mengurus beberapa hal di Salemba, aku menemani juga. Sekalian bernostalgia :). Banyak cerita sepanjang perjalanan. Menunggu bank buka (karena sedang solat jum`at), ngejar kereta, ngejar bajaj :D.. Tetep ya ibunya Faruq, udah jadi ibu ASI lincahnya gak berkurang. Alhamdulillah, begitulah seharusnya muslimah, banyak belajar saya. Hanya saja sekarang ibunya faruq kalo kemana-mana selalu membawa pompa ASI, hehehe... Hidup ibu ASI ^^

Sepanjang perjalanan kami banyak mengomentari hal-hal baru di depok, makin berkembang ya depok. Toko jilbab dan pakaian muslimah makin menyebar luas, salon muslimah makin bertambah, semua orang punya banyak pilihan mau membeli baju dan perlengkapan muslimah dimana saja, sesuai dengan kantong masing-masing, mau memilih peyanan salon muslimah juga makin banyak pilihan.

Ingat dulu sekali sekitar 10 tahun yang lalu, masa-masa kami SMP-SMU, nyari toko yang jualan perlengkapan muslimah susyaaaaaaaaaah sekali. Akhirnya muslimah zaman dulu (termasuk kita :D...) mengakalinya dengan membeli kain seukuran yang dibutuhkan kemudian di obras sendiri untuk jadi jilbab, Gamis, baju kurung juga bikin sendiri, saking susahnya mencari toko perlengkapan jilbab. belum lagi kalo kami pakai jilbab panjang dan jalan keluar rumah, mata-mata dijalanan seolah melihat kami kayak alien aja, mahluk asing yang entah darimana berkeliaran dibumi. Tapi sekarang, semua cepat sekali berlalu. Semua mudah diakses dan banyak pilihan. Subhanallah... Berasa ya jadi muslimah zaman dulu^^.... Alhamdulillah alloh masih menganugerahkan hidayahNya pada kami hingga detik ini... Semoga kami istoqomah sampai akhir hayat, Aamiin... 


Akhirnya, kami harus berpisah setelah sekian jam bersama. Menjelang berpisah, akhirnya perasaan itu datang juga, sedih sekali... Kapan kami bisa seperti ini lagi... Akan susah menemukan moment2 seperti ini, berasa sekali betapa berharganya waktu-waktu bersama. Teman se-bantal, teman se curhatan, teman se-marahan.... Kami berpisah dengan air mata saya yang tidak bisa dibendung, aduuuh.. diliatin orang segambreng didepan Detos... Akhirnya Ibu Faruq pergi duluan tanpa menoleh, karena dia tidak pernah mau menangis didepan siapapun termasuk didepanku. Sambil jalan aku masih nangis...

Haah.. Ya Alloh pertemukan kami dikeadaan yang jauh lebih baik dari sekarang.... Aamiiin....


-------------------------------------------------------------------------------------------------------


Setelah sampai dikamar... Hp bunyi.. Eh, dari ibu-nya Faruq....
Ibu-nya Faruq: Bla..Bla.. Bla...
Aku : ----------------- (Mikir...)
Ibu-nya Faruq: Ut....??
Aku : Iya, aku langsung balik ke detos deh, aku susulin ya... Segera di kabari kalo sudah ketemu.
Ibu-nya Faruq: Tolong ya ut, itu perlengkapan perangku...

Klik: Hubungan hp diputus



Buru-buru solat mahgrib dan segera meluncur ke detos lagi. ituuuuuuuuuu.. Pompa ASI ketinggalan entah dimana... Hadeeeeeeuuuuuuuh...


Sampai di detos lagi, langsung ngubek-ngubek tempat2 yang tadi kami kunjungi. Ada dua toko yang sudah tutup. Dan tebakanku itu pompa ASI tertinggal di salah satu toko yang sudah tutup itu. Ya sudah nunggu besok kalo gitu...

Pulang.... dan tertidur pulas, capeeeeeeek banget...

Paginya sebelum take off jam 16.20...
Itu pompa ASI harus ditemukan, datanglah diriku ke detos, dan belum buka. Biarlah, nunggu juga gakpapa.
Lama juga... Jam 10 teng, emolnya dibuka, langsunglah aku menyerbu masuk. Sampai diatas, eh kedua toko yang dimaksud belum buka. Setelah tanya sana sini, tokonya buka sekitar jam 12an. oke, sisa waktu 2 jam lagi, makan dulu deh. Nyari2 makan sendiri dan berkeliling emol, sedikit menyiksa kalo lagi gak punya uang ya :D... Perempuan gitu, kalo liat barang bagus maunya beli :))... Capek keliling, duduk deh di kursi pengunjung yang disediakan pihak manajemen mall, baca bukunya trinity yang the naked traveler. Agak menyesal beli bukunya, karena mba trinity-nya perokok, jadi berpikir kalo saya beli buku ini berarti saya memberikan uang untuk mba trinitynya untuk membeli rokok (Hehe... ini si pikiran bodoh saya aja...)

Okeh, sudah jam 12, langsung menuju target pertama dimana kemungkinan tertinggalnya yang paling tinggi. Bener aja, emang ada di situ si Pompa ASI itu. Alhamdulillah... kalo rezeki gak kemana ya :)... Alhamdulillah.......

Pompa ASI-nya faruq sudah ditemukan dan sudah diserahkan ke yang punya, saatnya meluncur ke bandara. Pulaaaaaaaaaaaaaang :)....

Sekarang.... Dikamar, nyalain tipi, sambil ngetik sambil liatin foto Faruq sambil berdoa "Ya Alloh, semoga Faruq sehat selalu, jadi anak sholeh, kebanggaan orang tuanya (juga aunty-nya ini^^...),, Bangga berislam ya nak, jadi anak pintar, sayang pada teman, berakhlak mulia, menghormati perempuan dan selalu dalam lindungan Alloh"
Aamiiin.....

 


Jumat, 06 Juli 2012

Yang enak itu pisang dan singkong goreng...

Makin menyukai menulis di blog... Telat banget yah... Udah taun berapa ini..?? Saya baru menyadarinya (-_-)' kemane aje aye selama ini yaaah :D...

Ditinggal sendirian dirumah karena pada liburan sekolah itu... Sesuatu banget yaah :)... 
Hari pertama seneeeeeeng banget, karena rumah kosong.
Tidak ada itu ribut-ribut bocah, tidak ada itu apa-apa berantakan, tidak ada itu suara tipi yang kekencengan... Pokoknya sepiiiiii...

Okelah, saatnya beberes rumah... Berhubung lagi shaum, yah beberes "semampunya sajah" :D... Setidaknya tidak ada tumpukan piring kotor, bersihin debu yang menempel di meja, di lemari dan jendela.....

Baiklaaah, cukup untuk hari ini, itu aja dulu... Masih ada tumpukan cucian, gabungan baju bocah-bocah yang gak sempet nyuci karena keburu pulang... Korbannya siapa lagi kalo bukan diriku ini yang harus membereskan semua "kekacauan" (Lebay :D...) yang mereka buat... Besok sajah nyuci bajunya... gak kukukuat hari ini... Kan shaum ceritanya (Alesan deh...)

Sore harinya............................................. Kok sepi siiiiiiiiih???........................................ Akhirnya....................

Telpon sepupu: "Temenin dirumah ya, sepi sendirian...!!".......... daaaaan...... Datanglah sepupuku. Alhamdulillah, tidak sepi lagi :))....


Hari ke 2...... Mengajak semua sodara yang sedang tak bisa liburan untuk tidur dirumah sajaaaaah :D..........
Biarlah tumpukan piring kotor, biarlah barang berceceran dimana-mana, biarlah...... Yang penting rame :))....

Mari bersyukur punya keluarga BESAR :)).... Alhamdulillah...........

Kesimpulannyaaaaaa... Tinggal sendiri dirumah itu tidak enak.......
yang enak itu pisang goreng dan singkong goreng ato singkong rebus...

Itu sajah....

Sekian :D.......


Kamis, 05 Juli 2012

Aku jatuh cinta...

Jauh kenangan ku melayang hari ini (karena pusing dan seharian dikamar saja). Dulu sekali, pertama kali melihatnya, dia manis dan sangat istimewah. Sampai saat ini aku susah melupakannya.


Namanya Yasin, dia istimewah, pintar, ganteng dan tentu saja dia imut sekali^^...

Yasin namanya, pertama kali bertemu di "margo city" sebuah mall di depok. Saat itu Yasin dan keluarganya sedang berbelanja disana. Aku dan bukde-nya Yasin (yang kebetulan dosenku) jg sedang berjalan-jalan menghabiskan sore di sana. Ketika bertemu, aku menggoda Yasin. Pertama kali ku pikir Yasin perempuan, dia cantik sekali:).. Dengan manis dia bergelayutan di gendongan ibunya.

Kami saling menyapa sebentar, kemudian saling berpamitan. Saat itu aku tak bertanya banyak tentang Yasin. Dia manis, seperti anak kebanyakan. Ketika digelitik sedikit, dia tertawa, senyumnya itu lho... Huhuhu.. Gak kuat, pengen nyium pipi bakpaonya^^...

Beberapa waktu kemudian Bukde Yasin yang bersamaku ketika perjumpaan kami yang pertama menanyakan padaku, adakah teman yang bisa mengasuh Yasin. Aku bertanya Yasin kenapa bu..??? selanjutnya mengalirlah cerita tentang Yasin dan disini aku tau kalau Yasin adalah anak laki-laki :D...

Sepulang dari pertemuanku dengan bukde-nya Yasin, aku teringat terus dengan tawaran tadi. Apa aku saja ya yang mengasuhnya...?? Lagi pula ketika itu kuliahku sudah tidak begitu padat. Tiap 2 kali sepekan aku mengantar Yasin ke "Sekolah"-nya, sehari-hari aku "mengajarinya" dirumah hanya setengah hari saja kok, gak lama. Yasin dengan keistimewahannya terus menggoda pikiranku.

Setelah kupikir-pikir, dengan bekal pendidikan bidan dan ilmu kesehatan masyarakat yang kupunya sekarang, aku bisa menjadi "kakak guru"-nya Yasin, Insha Alloh ;)...

Dengan tekad bulat aku putuskan untuk menerima saja tawaran bukde-nya Yasin.

Setiap harinya, ada saja yang kami lakukan dirumah. Jam 7 pagi aku sudah dirumah Yasin. Memandikan, mengganti pakaian. Setelah itu kami "latihan" di kasur khusus latihan yang biasa kami gelar di ruang tamu. (Yasin cepat sekali belajar) Kemudian menggendongnya sambil memberinya susu sampai Yasin tertidur... Ibu-nya sering bilang "kak Uti, kalau Yasin sudah tidur di baringkan saja"... Tapi aku lebih suka dan sering menggendongnya sampai ia tertidur lama :)...

Setelah Yasin tidur, biasanya kakak Iqbal dan Faris sudah pulang dari sekolahnya, mereka susah sekali makan. tidak jarang pula kami makan rame-rame di meja. Iqbal yang istimewah dan Faris si kakak yang gagah berani. Yasin juga punya kakak perempuan, namanya Adiba, dia cantik sekali, pintar beberapa bahasa, kalau saya tidak salah perancis, inggris dan sedikit spanyol, ketika itu Adiba juga sedang belajar bahasa Arab. Subhanallah...

Tak banyak bicara, begitulah Adiba. Ketika itu 1 Januari, itu hari ulang tahunku. ternyata aku dan Adiba berulang tahun di hari dan bulan yang sama. Setelah mengetahuinya, Adiba lebih sering bertanya tentang pelajarannya dan mulai mau bercerita denganku. Senang akhirnya bisa memahami Adiba kakak yang manis dan pendiam :)...

Yasin dengan segala kesempurnaannya, Alloh menyayanginya, kami semua menyayanginya.
Ingat sekali, Yasin tidak suka saat minum susu ia dibaringkan. Yasin juga tidak suka digendong seperti bayi (Ketika itu umurnya sekitar 10bulan), ia suka digendong dengan kepalanya dimiringkandan diletakan ke bahu, jadi saya sering menggendongnya seperti itu sampai dia tertidur lama. Tidak berasa sakit ataupun capek saat menggendongnya, karena pipinya seperti bakpao mungkin, yang berfungsi layaknya bantalan hehe :))...

Bersama Yasin, kakak Faris, kakak Iqbal dan kakak Diba... Ketiga kakaknya sangat menyayangi Yasin. Bahkan ketika Yasin tidur dan kami bermain, kakak faris mengingatkan, kita jangan terlalu ribut ya, Yasin sedang tidur. Perna juga aku melihat dari jauh, Iqbal membetulkan selimut Yasin yang tersingkap. Subhanallah...

Sambil menggendong Yasin tiba-tiba Iqbal bertanya "Kak Uti, kak Uti bisa bahasa Inggris...??"
Weeeh... Bahasa inggrisku kurang baik, kujawab saja, sambil nyengir "A little..."  :D...

Iqbal menjawab "Iya, me too.. a little..." Sambil ngeloyor pergi melanjutkan permainannya bersama kakak Faris... Iqbal bisa aja, kalian lahir dan SD-nya di Inggris, lah kakak...??? :D.. Hadeeeuuh...

Bikin nasi tim, bikin jus untuk bayi, belajar masak... Terjadi bersama Yasin bersaudara :D...

Teringat pertama bertemu ibu-nya Yasin, ibunya bilang "Yasin insha Alloh bisa melihat lho kak Uti, walaupun dokter bilang sulit penglihatan Yasin pulih, tapi Alloh Maha kuasa, iya kan kak..?? Lihat kak matanya, sempurna, bulat dan mencari-cari..." Kurang lebih seperti itu kalimat ummu Yasin ketika itu. Aku tersenyum ceria melihat ekpresi wajah Yasin..

Kutipan tulisan ibu-nya Yasin:

"My own little boy might have a form of Cerebral Palsy, but you've got to see 'im to believe his spirit. He's the coolness of our eyes, qurrota a'yunin..."

Iya, Yasin adalah bukti kasih sayang Alloh...
Untukku, untuk kami yang menyayanginya...

Luv u 




Rabu, 04 Juli 2012

Welcome Home :)....

Lama tak melihat laman ini...
Mari kita menulis lagi, dimulai dengaaaan...

Bismillahirahmanirahim :)

Beberapa hari ini.. Eh, beberapa bulan ini, yaa.. Beberapa bulan ini...

Memilih meninggalkan semua yang di Jakarta untuk kembali ke kota tercinta, Palembang.
Artinya kembali berkumpul bersama dengan keluarga dan adik-adik...
Hmmm... Tempat lama, tapi rasa baru... Kenapa..?? Karena ketika meninggalkan kota ini 8 tahun yang lalu Palembang belum semacet ini... Iya, MACET :'(...
Tapiiiiiiii... Berhubung sudah biasa di Jakarta, macet Palembang mah, belum seberapa.... Keciiiiiiiiiiil..... (songong :p..) Paling juga deg-degan pas mobil sedang diatas jembatan AMPERA takut jatuh (Inget berita rubuhnya jembatan yang di Kalimantan itu lhooo.. Kan baru 10 th pembangunannya..) Kalau pemerintah belum jg mencarikan solusi untuk kemacetan ini bisa jadi khaaaaaaaaaaan.. (Gaya Syahrini pake "Khaaaaan..."nya panjang gitu :D..) jembatan yang usianya sudah berpuluh tahun ini rubuh...
Alhamdulillah pas kita lagi gak diatasnya, kalo jembatan rubuh pas kita diatasnya...??? Wassalam... (Beneran deh perbanyak do`a tiap melintas diatas jembatan kebanggan orang palembang ini...)

Itulah kota Palembang sekarang, jembatan lama dengan kemacetan di atasnya (yang harus segera dicarikan solusinya), satu hal lagi yang membuat saya merasa tak beda Palembang dan Depok (waktu kerja di jakarta, tingganya bolak balik Depok, Jakarta dan Ciputat gitu ceritanya), sama-sama banyak mall.... Iya, sekarang Palembang punya buanyaaaaaaak emol. Padahal dulu 8tahun yang lalu, cuma ada satu emol dan satu pasar raya. sekarang pasar raya yang dulu cuma ada satu itu jadi buanyaaaak... ditiap per simpangan (lebay si) kok ada gitu pasar rayanya. Keren ya yang punya pasar raya, pandai berdagang (Gak penting deh :D..)
Berkembang terus Palembang...

Okeh... Itu dia cerita Palembang kami....
Yuk mari kita bahas, ini dia kenapa saya memutuskan untuk pulang ke Palembang setelah susah payah, memeras keringat, banting tulang, jungkir balik (Untung jungkirnya masih balik, kalau gak balik-balik kan repot ^^...) membangun karir di Jakarta (Halah :D...) kenapa memutuskan kembali, awalnya si memang punya niat kembali lagi setelah selesai sekolah disana. Tapi kok ya keterima kerjanya di Jakarta lagi... Jakarta lagi... (Orang emang gak nyari kerjaan di Palembang :D..)
Jakarta emang lebih mudah cari kerja, kota para pekerja, tapi tidak untuk ditinggali. itu Jakarta yang ada di benak saya :)....

Mama, mama yang membantu saya mengingatkan janji hati ini (Uhuuuy :D..) untuk kembali ke Palembang lagi. Mulai dari kekhawatiran mama tentang berita tipi dimana banyak penculikan dan pelecehan seksual di angkot (sampai hampir 2 bulan pulang pergi kantor naik taxi... dan itu menjebol dompetku mama :'(..... ), sampai masalah sakitnya mama.

Berita sakitnya mama sudah saya ketahui mulai dari 3 hari sebelum adik saya menelpon. Saya bilang, mama harus ke dokter dan periksa karena panasnya sudah hampir 3 hari gak turun-turun... Ternyata eh ternyata, tak didengar "perintah" ku ini...
Sampai telpon berdering lagi hari sabtu (Untung sabtu, kan libur kantor) Mama di bawa ke rumah sakit... Gak pake babibu.. Langsung pesan tiket dan berangkat 2 jam kemudian (ini jg menjebol dompet...).
Sampai di rumah Palembang, naro tas, langsung ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit mama sudah akan dipindahkan ke ruang perawatan dari emergency.

Diagnosis dokter, demam berdarah (Tepat dugaanku 3 hari yang lalu...)
Okeh... Demam berdarah, hasil lab, trombosit cuma 30.000 yang harusnya 150.000 – 450.000. Ya Alloh, kuat jg mama yah... Alhamdulillah tak terjadi hal yang mengkhawatirkan dengan trombosit segitu... Selalu bersyukur itu memang menenangkan. 

Hari ke dua, hasil pemeriksaan ke dua, ada masalah dengan lambung juga. Jadi makan mama benar-benar harus diawasi. Tidak boleh yang keras-keras, pokoknya tidak boleh yang ekstrim-ekstrim. 
Baiklah... Jadi gak bisa ngasi sari kurma, jus jambu biji, habatusaudah dan lainnya... Harus makanan dari RS. Alamat lama ni mama dirawat kalo begini, padahal hari kedua mama udah minta pulang, gak enak di RS, katanya gak bisa jalan-jalan... Ya Alloh, mama... Padahal masih lemes gitu.. Saya, cuma bisa senyum dan bilang, sabar ya ma, kalo mama mau cepat pulang harus banyak minum yah... (Tiap 5 menit sekali harus minum... gak peduli protes mama yang harus bangun dari tempat tidur karena sering pipis.


Hari ke tiga, hasil lab ke 2... Alhamdulillah sudah bisa di kasih beberapa MP (Makanan Pendamping, kayak MP ASI aja :D...) seperti madu dlsb.... Langsung telpon bapak, siangnya sampailah sari kurma hehe... (sejenislah yah sama madu...) Langsung diminum 2 sendok hampir 5 jam sekali saya kasih. 

Sudah hari ke empat... Huaaaah capek juga di rumah sakit terus... Tak pulang2 kerumah, cuma minta dikirimin baju dan peralatan mandi... Dalam hati, apalah artinya capek ini, ngurusin saya selama saya hidup sampai sekarang mama gak protes apa-apa... 

Nah, mulai terpikir kerjaan sudah izin 1 hari, karena senin libur bersama waktu itu. Sorenya dapet telpon dari kantor dan saya menjelaskan kondisi saya yang gak bisa ke mana-mana, adik bungsu sedang berangkat ke Bali, adik ke 2 sedang menyiapkan pernikahannya yang tinggal satu bulan lagi. So, cuma saya yang bisa di "otak-atik". Saya akan pulang kejakarta setelah mama keluar dari rumah sakit, apapun yang terjadi...


Hari ke lima, hasil lab ke 3. Trombosit 156.000... Alhamdulillah...
Tapi, dokter menemukan satu lagi masalah... Mama terjangkit hepattits B... Saya yang paham apa itu hepatitis B, tentu kaget bukan main..

Ternyata Allah punya rencana dengan DBD ini. Hepatitsnya ketahuan. Alhamdulillah. Hepatitis ini sering kali di senyebut "silent killer". Tidak ada tanda-tanda yang bisa kita lihat dari perubahan fisik misalnya (kecuali tubuh sudah terlihat menguning, ini tandanya sudah parah) atau tanda lainnya kecuali dari hasil lab. Tapi, biasanya fungsi hati pasien dengan DBD akan bekerja lebih berat dari biasanya ketika ia sehat. Hati harus menetralkan racun dalam tubuh yang terinfeksi DBD. Jadi saya pikir tidak perlulah di ributkan dulu. Tapi harus tetap waspada.

Tak apa, nanti kita bisa cek lagi hepatitisnya. yang penting sekarang, kita pulang kerumah dulu. Alhamdulillah... Semua bisa terkendali (sejauh ini).
Sehari setelah mama pulang ke rumah, saya langsung pulang ke Jakarta lagi daaaaaaaaan... Mengajukan surat pengunduran diri... Singkat cerita, diterima dan mereka berpesan kalau mama sudah sembuh saya diharapkan kembali lagi kesana. Haaaaaaaah... Wallahualam bii showab :)...

Baiklah, sekarang sudah beres-beres semua barang2... ternyata tak begitu banyak, cukup sati taxi untuk mengantar ke bandara... Tapiiiiiiii bagasi saya, menjebol dompet (again) :'(.... Ah, kasih ajah, yang penting pulang. Eh, eh... Tiba2 petugas bagasinya bilang "Mba, mau saya kurangi gak bagasinya..??" Saya: Heh..????, Petugas bandaranya: " Iya, jadi nanti kita bagi dua saja, mba bayar setengahnya, nanti saya yang setengah dari setengah sisa biaya bagasi yang seharusnya (Yang baca ngerti gak ya..?? Gitu deh pokoknya -_-'...) "... Oooooh.. (dalem hati, saya paham sekarang...). Saya: "Enggak deh mba, saya bayar semuanya saja disini. Jangan dikurangi..." Mba-nya: "Gakpapa kok mba, gaka akan ada apa-apa..." Mencoba meyakinkan... Saya: Sambil senyum "Gak deh, saya bayar semuanya saja, sesuai dengan yang sudah ditimbang..." Mbanya Rada sebel kayaknya... Tapi gak bilang apa-apa lagi. Dalam pikiran saya, ini kalo yang dilaporkan bagasi saya setengah dari berat yang sebenarnya, apa gak akan ada apa-apa di pesawat nanti?? gimana kalau pesawatnya kelebihan beban...??? Jangan-jangan gak cuma saya yang ditawari begituan... Auh ah gelap... Semoga apa yang saya lakukan benar... Bismillah....


Berangkat dengan mulus, dan mendarat dengan mulus juga... Alhamdulillah... Welcome home :)...